CS Laundry
Indonesia Detergent | Laundry Division
Administrator
Jr. Member
   
Karma: 500
Tulisan: 66
|
 |
« pada: Mei 22, 2010, 10:01:04 » |
|
Sam Kok yang arti harafiahnya "Tiga Negara" adalah kisah Roman Sejarah yang luar biasa, dibaca bukan saja oleh orang Tionghoa melainkan juga berbagai bangsa didunia karena mengandung banyak falsafah hidup yang sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari. Sudah pula dibuat DVD serial yang panjang sekali. Meski ceritanya tentang perang melulu, namun bukan kayak film silat melainkan sarat dengan dialog-dialog panjang sehingga buat yang menggemari film laga (action movies) bakal capai menontonnya.
Tiga Negara itu adalah SHU (Siok) 221 - 263 AD, WEI (Gwie) 220 - 265 AD dan WU (Gouw) 229 - 280 AD yang terus-menerus berperang memperebutkan kekuasaan. Sesungguhnya dari satu set buku-buku Sam Kok yang tebal-tebal itu dari 120 bab maka 67 bab adalah mengenai KHONG BENG (sering disebut juga sebagai Kong Ming, Zhuge Liang atau Cu-kat Liang) yang dijuluki "hidden dragon" atau "sleeping dragon" karena berasal dari pegunungan Go-Liong-san.
Khong Beng dikenal sebagai ahli strategi kemiliteran (padahal dia tidak sekolah militer), ahli meteorologi (padahal tidak sekolah itu) dan ahli pertukangan (padahal dia bukan "tukang"). Jabatannya adalah Penasehat Militer (padahal dia bukan militer), baru belakangan merangkap jadi Perdana Menteri. Kelihaian, kecerdikan dan kepandaiannya diakui kawan dan lawannya. Taktik dan strateginya dijadikan pelajaran "ilmu perang". Kemahirannya adalah karena dia pandai memanfaatkan/ menghargai para pembantunya yang cakap dan setia.
Dia juga menguasai psikologi seakan-akan bisa membaca jalan pikiran orang lain. Dari ilmu meterologi dia dapat meramal cuaca. Dia juga pandai membuat peralatan untuk mengecoh musuhnya. Keberhasilannya adalah karena dia fokus dan teliti, tahu mendahulukan prioritas, mengenali siapa kawan dan lawannya saat itu maupun kelak dikemudian harinya.
Khong Beng meninggal dunia ditahun 234 AD dalam usia tergolong belum tua yaitu 53 tahun. Penyebab kematiannya adalah "overworked" (kurang tidur dan makanan bergizi) dan "fell sick" (kekecewaan & stress). Untuk memperingati Khong Beng dibangun Wuhou Memorial Temple. Pada suatu waktu, Khong Beng menerima kabar bahwa Raja Beng Hek dari negeri Lam-ban telah menyerang See-coan yang terletak diperbatasan. Sebenarnya negeri Lam-ban itu sangat jauh letaknya lagipula secara kekuatan militer/ekonomi/kultur Lam-ban tergolong dibawah negeri Shu/Siok. Yang dikuatirkan adalah manakala terjadi pertempuran dengan negara WEI dari Utara dan/atau negara WU dari Timur, maka gangguan negeri Lam-ban yang "kecil" itu bakal merepotkan dan melemahkan kekuatan SHU. Barangkali situasinya macam Timor Leste (Timor Timur), negeri kecil lemah tetapi bisa jadi "duri" dalam daging atau "tikaman dari belakang" bagi Australia dan Indonesia. Oleh karena itu negeri Lam-ban bagaimanapun juga harus ditaklukkan. Dengan kekuatan 500,000 prajurit yang dipimpin sendiri oleh Khong Beng menyerang negeri Lam-ban.
Dalam waktu singkat tentara Lam-ban dikalahkan dan Raja Beng Hek sendiri ditawan, tetapi Khong Beng malah membebaskannya. Perwira dikubu Khong Beng menyampaikan keberatannya : "Beng Hek itu raja jahat dinegeri Lam-ban, kenapa Paduka justru melepaskannya ? "Khong Beng tersenyum :
"Menangkap Beng Hek itu begitu mudahnya seakan aku ambil barang dari kantong bajuku. Namun aku ingin menaklukkan hatinya sehingga terpaksa aku lepaskan. Maksudku bila hati Beng Hek telah dapat kita taklukkan, negeri Lam-ban ini bisa kita amankan selama-lamanya !" Maka Raja Beng Hek dijamu makan minum, dibekali pakaian dan kuda, lalu dipersilahkan pulang. Ternyata Raja Beng Hek ini "bandel" sekali, begitu dilepas langsung menyusun kekuatannya kembali untuk melawan pasukan Khong Beng. Sampai enam kali Raja ini dikalahkan dan ditangkap dimana setiap kalinya dibebaskan oleh Khong Beng.
Setelah dilepaskan, Raja Beng Hek mendatangi negeri tetangganya Ouw Kokok yang diperintah oleh Raja Gut Tut-kut untuk bersekutu melawan kembali Khong Beng. Kali ini karena menghadapi lawan yang begitu kuat, Khong Beng terpaksa menggunakan siasat "api" yang berhasil membakar kedua pasukan Beng Hek dan Gut Tut-kut sehingga sekitar 30,000 tentara Lam-ban & Ouw Kokok tewas hangus.
Dari atas bukit Khong Beng menyaksikan pemandangan mengerikan dari serdadu lawan yang menjerit-jerit terbakar hidup-hidup, sehingga Khong Beng sedih dan mencucurkan air mata seraya berkata : "Meski aku dipandang berjasa kepada negaraku, namun aku berdosa besar membunuh sesama manusia tanpa perikemanusiaan." Raja Beng Hek pun tertangkap dan seperti yang sudah-sudah kali inipun dilepas, dipersilahkan menghimpun kekuatan tentaranya lagi untuk melawan kembali kalau belum merasa kalah dan puas.
|